Article Detail

SAYA SEKARANG ADALAH AKUMULASI MASA LALU . . .

Untuk mengenal lebih dekat Chairul Tanjung, Si Anak Singkong  yang sekarang menjadi pengusaha sukses bisa dengan cara bertemu langsung dan ngobrol dengan beliau, bisa juga dengan membaca lembar demi lembar buku buah karya Tjahja Gunawan Diredja ini.

Judul                     : Chairul Tanjung Si Anak Singkong

Penulis                  : Tjahja Gunawan Diredja

Penerbit                 : PT Kompas Media Nusantara

Tahun Terbit           : 30 Juni 2012

Tebal                     : xvi + 384 h; 15 cm x 23 cm

Buku ini berisi biografi dan perjalanan hidup Chairul Tanjung, seorang pengusaha sukses dan sangat terkenal di Indonesia. Saya tertarik membaca buku ini karena masa lalu dan perjuangannya bisa menjadi inspirasi yang memotivasi agar setiap orang tidak mudah menyerah karena latar belakang mereka.
Meski masa lalu Chairul Tanjung penuh perjuangan dalam mengatasi segala permasalahan dan kesulitan, Chairul Tanjung tidak pernah menceritakan permasalahan kepada orang lain. Chairul Tanjung adalah orang yang senantiasa tersenyum, menyembunyikan perasaannya saat orang lain ingin tahu tentang kondisi hidupnya.
Ada empat pilar dalam hidupnya yang bisa dijadikan gambaran kesuksesan jika dapat dirangkum bersama menjadi satu lingkaran yang tak terputus. Empat pilar itu adalah:
  1. Keluarga dan masa kecil
  2. Filosopi
  3. Bisnis
  4. Sosial
Chairul mendapat dukungan dari orang tua yang mencintai pendidikan dan menjadikan pendidikan yang  yang menjaga integritas, kegigihan dan kejujuran menjadi hal utama. Ia mengingat ibunya yang menasihati ,” Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan serius, Nak.” Kata-kata ibunya ini mendorongnya untuk membangun kedisiplinan dari sekolah.

Selain ibunya, sosok yang juga mendorongnya untuk bersyukur atas pendidikan formalnya adalah Sang nenek. Chairul mengungkapkan,” Kalau saja dulu nenek tidak menyekolahkan saya di sekolah Belanda, SD dan SMP Van Lith, Jakarta yang sangat disiplin, barang kali saya belum tentu seperti sekarang.” Rupanya ia tidak hanya merasa cukup ditempa di sekolah, Chairulpun banyak belajar dari pengalaman berbisnis kecil-kecilan, bersosialisasi dan bermain peran.  

Chairul mengawali bisnis kecil-kecilanya dengan jualan  es mambo lalu dikembangkan ke fotokopi, alat kedokteran, jual mobil bekas sampai membuat usaha pabrik sandal. Setelah itu ia membuat keputusan untuk menjadi pengusaha. Jalan tak selamanya mulus. Bintang tak selamanya benderang. Ada rintangan menghadangnya berupa peristiwa kebangkrutan. Itulah tantangan terbesar Chairul untuk membuktikan pribadi seperti apa ia. Ia tidak mandeg. Dengan kerja keras dan mensyukuri apa yang ia dapatkan dengan kerja keras akhirnya ia keluar dari permasalahan yang membelitnya lalu sampailah ia pada suatu kesadaran, “Kita butuh banyak wirausaha yang nasionalis, nasionalis kerakyatan, karena ini tugas kemanusiaan. Karena kekayaan tidak dibawa mati. Inilah watak kebangsaan yang paling sejati. Kita berbuat, tidak sekedar beretorika.” Berbekal keyakinan yang kuat dan usaha yang mantap ia meluaskan sayap bisnisnya yaitu Mega Corp, Trans Corp, CT Global Resources.

Tugas kemanusiaan yang ia maksud kurang lebih bisa diartikan bahwa setiap bisnis harus membuka peluang seluas mungkin pada kebaikan sesama yang bernilai sosial. Maka tak heran Chairul meluaskan networking dan memberi bantuan sosial untuk yayasan, sekolah, rumah tinggal dan lain sebagainya. Sungguh, Chairul yang luar biasa!

(Christina Martini, guru matematika dan kepala sekolah)
 
Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment