Article Detail

Bertumbuh dalam Pengampunan yang Membebaskan

Dalam suatu pertemuan Adven tahun lalu tema yang didalami adalah tentang keluarga. Kebetulan saya sedang mendapat tugas dari kongregasi CB untuk Live in di Lubuk Linggau yaitu sebuah daerah di Sumatera Selatan sehingga saya boleh mengalami pertemuan dengan keluarga di sana. Pada pertemuan tersebut dibahas tema yaitu keluarga sebagai “Benteng Mencegah Narkoba”.

Kejahatan di muka bumi ini memang membuat banyak orang tua harus waspada dan terus berupaya agar tidak satupun dari anggotanya menjadi korban atau menjadikan orang lain sebagai korban. Pelaku dan korban kejahatan dari yang ringan sampai yang berat – saya katakan ringan disini misalnya berupa saling mengejek, menghakimi sesama lewat media sosial sampai kejahatan yang kita rasakan sulit diampuni seperti mengambil hak atas hidup orang lain – berakar pada pemusatan pada cinta diri dan tidak mengindahkan kebaikan bagi pihak lain. Jika setiap hari berita yang beredar adalah maraknya kejahatan lalu dimana ada kedamaian, ketentraman, keamanan? Suatu sikap kristiani yang tetap relevan dan tak lekang dimakan jaman adalah memaafkan atau mengampuni.

Ujian untuk mengampuni tidaklah pernah sederhana. Bagaimana seorang ayah bisa mengampuni anaknya yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba? Bagaimana seorang istri bisa tahan uji untuk mempertahankan perkawinannya yang adalah sebuah sakramen di mana Yesus sendiri hadir di dalamnya? Bagaimana seorang ibu bersedia mengampuni pembunuh anaknya yang tunggal?

Praktik pengampunan dalam sebuah buku yang ditulis dengan apik oleh Frances Hogan menyebutkan betapa pribadi pengampun adalah pribadi yang menggetarkan jiwa. Satu hal yang ditulisnya adalah bahwa pengampunan berarti mengatasi kejahatan dengan kebaikan, suatu bukti bahwa di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah limpah (Rom. 5:20). Ia menambahkan bahwa dengan pengampunan manusia dibebaskan dari perasaan yang mengecewakan bahwa dunia dikendalikan  oleh orang orang jahat, bahwa kita menjadi tidak berdaya di hadapan begitu banyak kebencian dan kejahatan. Puji Tuhan, manusia boleh memilih untuk berdaya dengan mengampuni, bertumbuh dalam sukacita mengetahui bahwa kejahatan justru tak berdaya dihadapan pemgampunan yang tulus.

 

Contoh Pengampunan dalam Perjanjian Lama

Pengampunan yang diberikan oleh orang yang sudah disakiti akan menyembuhkan juga bagi orang yang menyakiti. Contoh teladan pengampunan yang ditulis dalam buku ini hanyalah berupa cuplikan-cuplikan dari Kitab Perjanjian Lama seperti Yusuf mengampuni saudara saudaranya, Raja Daud mengampuni Raja Saul yang bertekat membunuhnya dengan mengejarnya tanpa belas kasihan. Sekalipun hanya dikisahkan secara singkat tetapi pesan akan betapa besarnya nilai sebuah pengampunan dapat  meresap ke perasaan pembaca.

Pada kisah pengampunan Daud ini penulis Hogan mengungkapkan dengan sangat menyentuh bahwa Daud hidup di jaman saat gigi ganti gigi dan mata ganti mata namun  Daud memilih untuk bersikap penuh belas kasih terhadap lawannya. Ia digerakkan oleh hati yang lembut dan disitulah justru letak kepahlawanannya. Saya tertarik dengan contoh pengampunan dari buku Hogan ini. Saya heran bagaimana Hogan dapat belajar memaknai begitu mendalam suatu peristiwa yang pedih dan dapat melampaui peristiwanya dan akhirnya belajar dari peristiwa yang menyakitkan tersebut. Dan tentunya menjadi manusia baru.

 

Contoh Pengampunan dalam Perjanjian Baru

Hadirnya hukum baru yaitu sebagai ganti hukum mata ganti mata gigi ganti gigi yaitu untuk tidak membenci, tidak membalas gigi ganti gigi baik dalam kata maupun perbuatan. Tuhan menaruh perhatian pada setiap pertumbuhan yang dialami setiap pribadi. Tuhan menaruh perhatian pada hidup Stefanus, martir pertama. Stefanus membagikan rahmat pengampunan pada mereka yang melemparinya dengan batu sampai mati. Pada  Kisah Para Rasul 8: 1 dituliskan bahwa Saulus yang kemudian berganti nama menjadi Paulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. Sekalipun tak ditulis dalam Injil kata-kata Hogan yang bisa memotivasi seseorang untuk bertumbuh dalam pengampunan adalah tak diragukan lagi  bahwa darah martir itu memohon keselamatan jiwa penganiayanya, sehingga membatalkan kejahatan dan menciptakan kebaikan yang lebih besar, karena Saulus sendiri akan menjadi pewarta Kristus yang tak kenal lelah. Hogan menambahkan bahwa Stefanus tidak mati dengan sia-sia, karena Paulus adalah bagian dari hasil panen Stefanus untuk  Allah.

 

 

Jaman ini membutuhkan Jiwa Pengampun

Bagi setiap orang yang sudah mengalami kasih Allah karena banyak diampuni dengan penuh kesadaran akan meneruskan rahmat ini pada setiap orang yang membutuhkan. Mereka sadar bahwa pembalasan dendam adalah pemborosan waktu, tenaga dan memutuskan kreatifitas hidup. Hogan memberi pencerahan bahwa seorang yang menaruh dendam akan merugikan diri sendiri, dari pada orang bersalah yang menjadi penyebab pertama masalah tersebut. Pengampunan merupakan salah satu dari kunci-kunci untuk mengatur hidup suskes. Anda mengharapkan hidup sukses, ada kegembiraan dan bisa menghayati hidup dengan pantas? Dengan membaca buku milik Frances Hogan: Pengampuan, wujud mulia cinta ini Anda sedang menuju ke arah berrahmat itu. Semoga hidup kita menjadi berkat bagi sesama dan alam semesta.

Tuhan memberkati.

 

Sr Greta CB, guru Agama Katolik

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment